Trips to the city of Manado is very exciting indeed. Many options for tourists and for the pro tour berekreasi ria. Of natural attractions such as the Bunaken marine park, beautiful beaches, where people's entertainment, shopping, to restaurants, in the city.
For tourists who like the beach as a natural recreational places are still in the city, the city of Manado, is the place. Pesona beautiful beach can be witnessed from Malalayang area until the area is to be Bolevard city.
Regions Malalayang has charm enough beautiful beaches. In the surrounding there are a number of cafes built by the beach. Cafes that offer a whole range of sea food dish with grilled fish as a main dish. Therefore, people call this fish Malalayang fuel.
Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai.
Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, tinutuan, dan lain-lain. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya.
Kawasan Bolevard tampaknya telah menjadi pusat jajanan “goyang lidah” pemuas selera makan di malam hari di Kota Manado. Suasananya mirip Pantai Losari di Kota Makassar. Banyaknya pengunjung yang datang ke tempat itu, membawa rejeki bagi para penjual makanan
Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kegiatan pariwisata dengan pesat tumbuh menjadi salah satu andalan perekonomian kota. Primadona pariwisata kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi Utara adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh dalam sekitar ½ s/d 2 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi.
Objek wisata lain yang menonjol di kota Manado adalah Kelenteng Ban Hin Kiong di kawasan Pusat Kota yang dibangun pada awal abad 19, Museum Negeri Sulawesi Utara, dan Monumen (Tugu Peringatan) Perang Dunia Kedua.
Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah satu keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke objek-objek wisata di hinterland, khususnya di Minahasa, yang dapat dijangkau dalam waktu 1 s/d 3 jam dari kota Manado. Objek-objek wisata tersebut antara lain, Vulcano Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Panorama pegunungan dan Danau Tondano, Batu Pinabetengan dan Waruga di Sawangan.
Karena potensi wisata yang besar tersebut maka industri pariwisata di kota Manado telah semakin tumbuh dan berkembang, yang antara lain ditandai dengan cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya. Sampai tahun akhir tahun 2001, terdapat 67 buah hotel/penginapan, 15 buah travel biro, 223 buah restoran dan rumah makan dari berbagai kelas.
Oleh karenanya meskipun cukup terpengaruh oleh krisis ekonomi dan situasi nasional yang kurang kondusif, tetapi pariwisata di kota Manado tetap berlangsung. Pada tahun 1998 kunjungan wisatawan mancanegara adalah 34.509 Orang, menjadi 11.538 Orang pada tahun 2000 dan agak meningkat pada tahun 2001 menjadi 12.301Orang. Sedangkan wisatawan nusantara pada tahun 1998 berjumlah 432.993 orang, kemudian turun menjadi 279.014 orang pada tahun 2000 dan terakhir pada tahun 2001 agak meningkat menjadi 291.037 orang
Taman Laut Bunaken Manado Tua
On the Peninsula North Sulawesi, Indonesia is a group of five islands that make up the national marine park Bunaken Manado Tua. This park has land and 75,265 hectares of sea, which continues to grow and is protected by the government of North Sulawesi. This marine park inaugurated by marine ministry on 15 October 1991.
Bunaken have at least 40 dives a place rich in fish - tropical fish and coral reefs. More than 150 species from 58 genus in Bunaken beach. More than 3,000 species of fish swim in the "Golden triangle" Papua New Guinea, Philippines, and Indonesia. Bunaken is biologically and strategically located in the "triangle" is.
In the North Sea is located Bunaken Sulawesi who have a depth exceeding 19,800 feet. Bunaken located not far from Manado, approximately 5000 feet (15 minutes from Manado Beach).
Watu PINAWETENGAN
Megalit other type of interest, which is located in Minahasa bergores stone that is found in District Tompaso. By the local stone is called the bergores Watu pinawetengan. This stone is a large natural stone bongkahan, so the shape is not uniform. Bongkahan on the stone there is a scratch-scratching variety of patterns made by human hands. Scratch-scratching is a form of human image, like male genitalia, female genitalia describe, motifs and lines and patterns that are not clear meaning. Experts suspect that the sketch-sketch is a symbol associated with the belief that support community cultural megalit, namely belief in the spirit of the ancestors (fathers) who have considered the strength of its magical set and determine the life of man in the world. Therefore, humans must do rites of worship to obtain a specific safety or to obtain what is expected (such as the success of the harvest, reject or evict marabahaya disease) by using large stones as they worship. The local community trust that the stone was the place where the leaders bermusyawarahnya community leaders and descendants of the original Minahasa Toar-Lumimuut (the ancestor of Minahasa people) at the past, in order to divide the region into six groups of ethnic tribes who belong to the people in groups Minahasa ethnicity. To this bergores stone that is found in Minahasa, Watu pinawetengan new, there are Kawangkoan work in the area but the findings can be considered as a quite important and can be included as historical monuments, especially the cultural history of Minahasa.
For tourists who like the beach as a natural recreational places are still in the city, the city of Manado, is the place. Pesona beautiful beach can be witnessed from Malalayang area until the area is to be Bolevard city.
Regions Malalayang has charm enough beautiful beaches. In the surrounding there are a number of cafes built by the beach. Cafes that offer a whole range of sea food dish with grilled fish as a main dish. Therefore, people call this fish Malalayang fuel.
Seiring dengan terbenamnya matahari, kawasan Bolevard menjadi ramai oleh penjual makanan. Mereka menggelar jualannya di sejumlah tenda di pinggiran pantai.
Hidangan yang tersedia terdiri dari; nasi goreng, bakso, gado-gado, tinutuan, dan lain-lain. Harganya pun relatif murah. Para pengunjung dapat memilih sesuai selera yang diinginkannya.
Kawasan Bolevard tampaknya telah menjadi pusat jajanan “goyang lidah” pemuas selera makan di malam hari di Kota Manado. Suasananya mirip Pantai Losari di Kota Makassar. Banyaknya pengunjung yang datang ke tempat itu, membawa rejeki bagi para penjual makanan
Dalam kurun waktu dua dekade terakhir, kegiatan pariwisata dengan pesat tumbuh menjadi salah satu andalan perekonomian kota. Primadona pariwisata kota Manado bahkan Provinsi Sulawesi Utara adalah Taman Nasional Bunaken, yang oleh sementara orang disebut sebagai salah satu taman laut terindah di dunia. Letaknya yang hanya sekitar 8 Km dari daratan kota Manado dan dapat ditempuh dalam sekitar ½ s/d 2 jam menyebabkan Taman Nasional ini mudah dikunjungi.
Objek wisata lain yang menonjol di kota Manado adalah Kelenteng Ban Hin Kiong di kawasan Pusat Kota yang dibangun pada awal abad 19, Museum Negeri Sulawesi Utara, dan Monumen (Tugu Peringatan) Perang Dunia Kedua.
Selain memiliki objek-objek wisata yang menarik, salah satu keunggulan pariwisata kota Manado adalah letaknya yang strategis ke objek-objek wisata di hinterland, khususnya di Minahasa, yang dapat dijangkau dalam waktu 1 s/d 3 jam dari kota Manado. Objek-objek wisata tersebut antara lain, Vulcano Area di Tomohon, Desa Agriwisata Rurukan-Tomohon, Panorama pegunungan dan Danau Tondano, Batu Pinabetengan dan Waruga di Sawangan.
Karena potensi wisata yang besar tersebut maka industri pariwisata di kota Manado telah semakin tumbuh dan berkembang, yang antara lain ditandai dengan cukup banyaknya hotel dan sarana pendukung lainnya. Sampai tahun akhir tahun 2001, terdapat 67 buah hotel/penginapan, 15 buah travel biro, 223 buah restoran dan rumah makan dari berbagai kelas.
Oleh karenanya meskipun cukup terpengaruh oleh krisis ekonomi dan situasi nasional yang kurang kondusif, tetapi pariwisata di kota Manado tetap berlangsung. Pada tahun 1998 kunjungan wisatawan mancanegara adalah 34.509 Orang, menjadi 11.538 Orang pada tahun 2000 dan agak meningkat pada tahun 2001 menjadi 12.301Orang. Sedangkan wisatawan nusantara pada tahun 1998 berjumlah 432.993 orang, kemudian turun menjadi 279.014 orang pada tahun 2000 dan terakhir pada tahun 2001 agak meningkat menjadi 291.037 orang
Taman Laut Bunaken Manado Tua
On the Peninsula North Sulawesi, Indonesia is a group of five islands that make up the national marine park Bunaken Manado Tua. This park has land and 75,265 hectares of sea, which continues to grow and is protected by the government of North Sulawesi. This marine park inaugurated by marine ministry on 15 October 1991.
Bunaken have at least 40 dives a place rich in fish - tropical fish and coral reefs. More than 150 species from 58 genus in Bunaken beach. More than 3,000 species of fish swim in the "Golden triangle" Papua New Guinea, Philippines, and Indonesia. Bunaken is biologically and strategically located in the "triangle" is.
In the North Sea is located Bunaken Sulawesi who have a depth exceeding 19,800 feet. Bunaken located not far from Manado, approximately 5000 feet (15 minutes from Manado Beach).
Watu PINAWETENGAN
Megalit other type of interest, which is located in Minahasa bergores stone that is found in District Tompaso. By the local stone is called the bergores Watu pinawetengan. This stone is a large natural stone bongkahan, so the shape is not uniform. Bongkahan on the stone there is a scratch-scratching variety of patterns made by human hands. Scratch-scratching is a form of human image, like male genitalia, female genitalia describe, motifs and lines and patterns that are not clear meaning. Experts suspect that the sketch-sketch is a symbol associated with the belief that support community cultural megalit, namely belief in the spirit of the ancestors (fathers) who have considered the strength of its magical set and determine the life of man in the world. Therefore, humans must do rites of worship to obtain a specific safety or to obtain what is expected (such as the success of the harvest, reject or evict marabahaya disease) by using large stones as they worship. The local community trust that the stone was the place where the leaders bermusyawarahnya community leaders and descendants of the original Minahasa Toar-Lumimuut (the ancestor of Minahasa people) at the past, in order to divide the region into six groups of ethnic tribes who belong to the people in groups Minahasa ethnicity. To this bergores stone that is found in Minahasa, Watu pinawetengan new, there are Kawangkoan work in the area but the findings can be considered as a quite important and can be included as historical monuments, especially the cultural history of Minahasa.

0 komentar:
Posting Komentar